<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Berusaha Menjadi Sukses</title>
	<atom:link href="http://www.wahjoe.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wahjoe.com</link>
	<description>Sukses saat hidup, saat mati, dan saat dihidupkan kembali.</description>
	<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 19:09:27 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Selalu minta maaf, tapi jangan mau memaafkan</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20100713/selalu-minta-maaf-tapi-jangan-mau-memaafkan.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20100713/selalu-minta-maaf-tapi-jangan-mau-memaafkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 18:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[@Lakonku]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan Pribadi]]></category>

		<category><![CDATA[bertaubat]]></category>

		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>

		<category><![CDATA[memaafkan]]></category>

		<category><![CDATA[minta maaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Mau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Dan dalam melakukan interaksi ada saja hal yang membuat kita sakit hati, tidak senang, tidak nyaman ato sejenisnya. Dan yang parah, sepertinya malah kita yang sering membuat orang lain tidak nyaman. Minta maaf? boleh, dan itu memang perlu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Dan dalam melakukan interaksi ada saja hal yang membuat kita sakit hati, tidak senang, tidak nyaman ato sejenisnya. Dan yang parah, sepertinya malah kita yang sering membuat orang lain tidak nyaman. Minta maaf? boleh, dan itu memang perlu. Kalo harus memaafkan&#8230; nggak usah la yau <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <span id="more-93"></span></p>
<p><strong>Minta maaf, sepertinya memang penting</strong><br />
Salah satu qodar yang pasti kita alami adalah qodar salah. Saat qodar salah didatangkan ke kita sebenarnya ada panggilan kemuliaan yang tersirat disana, yaitu panggilan bertaubat. Allah maha halus, sehalus apapun, sekecil apapun kesalahan kita, allah pasti akan tau, dan allah akan meminta pertanggung jawaban dari kita.</p>
<p>Tapi juga jangan lupa bahwa ampunan allah teramat besar. Meski sosa kita memenuhi langit dan buminpun, yakinlah ampunan allah lebih besar lagi. Andaikan ada seorang anak yang mempunya kesalahan, dan minta maaf ke orang tuanya, niscaya orang tua ini akan mudah memaafkan kesalahan anak tersebut karena kasih sayangnya. Padahal kasih sayang allah kepada hambanya, jauuhhhh lebih besar daripada kasih sayang orang tua manapun kepada anaknya.</p>
<p>Namanya minta maaf, minta ampun, bertaubat adalah memenuhi panggilan allah setelah qodar salah didatang ke kita. Bukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan orang yang pernah kita sakiti. Minta maaf pada orang yang pernah kita salahi, kita lakukan saja. Karena memang hal itu yang dituntunkan. Tapi harus siap ya kalo orang itu memaki maki kita, namanya juga merasa bersalah <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Jangan malah ganti kita yang sakit hati.<br />
*** Berusaha sekuat tenaga untuk minta maaf dengan ikhlas</p>
<p><strong>Usahakan untuk tidak memaafkan</strong><br />
Lho.. kenapa? Yo pokoke ngono iku. Yang perlu kita tanamkan adalah bahwa orang lain tidak pernah bersalah ke kita. Untuk apa kita memaafkan kalo mereka tidak pernah bersalah ke kita? Saat kita merasa mereka tidak pernah punya salah ke kita, insya allah akan lebih mudah bagi kita untuk bersikap baik , daripada kita merasa mereka sudah pernah bersalah dan kita maafkan.</p>
<p>Bagaimana kalo mereka memperlakukan kita dengan tidak baik? Mereka memaki, mengolok olok, menipu, menfitnah dll yang menyakitkan? Wah&#8230; yen ngono aku yo ra ngerti rek..</p>
<p>Yang jelas, di dunia ini allah tidak akan berbicara langsung dengan kita. Allah tidak akan memukul kita langsung dengan tangannya. Saat allah merasa perlu memukul kita, allah akan menggunakan perantara tangan hambanya yang lain. Demikian juga saat allah ingin menguji kita dengan makian, dengan fitnahan, allah juga akan meminjam mulut hambanya yang lain.  Ada yang mengambil barang kita, saat itulah allah menggunakan tangan hambanya yang lain untuk mengambil barang titipannya di kita. Lalu, dimana letak kesalahan hamba yang dijadikan perantara itu? Mau marah? Marah ama siapa bung? <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apa masih menganggap ada orang lain yang bersalah ke kita?</p>
<p><strong>Jangankan berbuat, berkehendakpun kita tidak akan mampu tanpa pertolongannya</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20100713/selalu-minta-maaf-tapi-jangan-mau-memaafkan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya ada 1 pilihan dalam hidup ini</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20100707/hanya-ada-1-pilihan-saja-dalam-hidup-ini.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20100707/hanya-ada-1-pilihan-saja-dalam-hidup-ini.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 13:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan Pribadi]]></category>

		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<category><![CDATA[pilihan]]></category>

		<category><![CDATA[pilihan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang kita beranggapan ada banyak pilihan dalam hidup. Ingin kaya ato miskin. Ingin pandai atau bodoh, itu adalah sebuah pilihan. Tentu saja apapun pilihan kita ada konsekuensi yang akan kita jalani. Misalnya kita memilih untuk menjadi orang kaya, maka konsekuensi logisnya kita harus giat bekerja cari duit. Demikian pula kalo kita ingin pinter, ingin ganteng, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang kita beranggapan ada banyak pilihan dalam hidup. Ingin kaya ato miskin. Ingin pandai atau bodoh, itu adalah sebuah pilihan. Tentu saja apapun pilihan kita ada konsekuensi yang akan kita jalani. Misalnya kita memilih untuk menjadi orang kaya, maka konsekuensi logisnya kita harus giat bekerja cari duit. Demikian pula kalo kita ingin pinter, ingin ganteng, cantik dll.  Tapi benarkah kita mempunyai pilihan dalam hidup ini?<span id="more-92"></span></p>
<p>Yup, kita memang mempunyai pilihan, tapi hanya 1 pilihan yaitu <strong>menerima</strong>, tidak ada pilihan lain. Kalau kaya dan miskin adalah suatu pilihan, yakin semua akan pilih jadi kaya. Kok masih ada yang miskin ya? Apakah mereka memilih jadi miskin? tentu saja tidak. Apa mereka malas kerja? banyak orang kaya yang lebih malas dari pada mereka. Apa mereka kurang pinter? Yakin kita akan mudah mencari orang yang lebih bodoh tapi bergelimang harta.</p>
<p>So, apakah kita masih beranggapan punya pilihan selain <strong>menerima</strong> ?</p>
<p>Banyak yang rajin belajar tapi tetap saja nilai dibawah rata2.<br />
Banyak yang rajin merawat wajah, tetep saja punya wajah pas2an <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Banyak yang gencar promosi, teteap saja dagangan gak laku2.<br />
Banyak dan banyak lagi contoh yang akan membuktikan bahwa kita tidak punya pilihan lain, tapi banyak diantara kita yang membantah.</p>
<p>Ada 2 hal penting yang mampu kita perbuat.</p>
<ol>
<li>Tetap berbuat yang terbaik sesuai peran kita.<br />
Maksudnya adalah tetap berusaha dengan logika yang kita punya. Ingin kaya, ya kerja. Ingin pinter ya belajar, ingin cantik ya merawat diri, ingin sehat ya berobat. Tapi jangan meyakini hal itu akan mempunyai peran dalam mencapai tujuan.<br />
Kalau jatah kita 100rb perhari, mau kerja keras, merampok, mencuri atau diam saja, tetep saja dapet 100rb. Terserah, setelah dapat 100rb itu, kita ingin ke neraka ato ke sorga <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Siapkan hati untuk selalu <em>nrimo</em><br />
Kembali ke kesadaran awal, bahwa kita hanya punya 1 pilihan, yaitu menerima. Apapun yang kita lakukan, itu adalah proses sebuah ibadah, bukan proses membentuk suatu hasil. Apa yang sudah, sedang dan akan terjadi 100% adalah wewenang allah. Dan keputusan allah tidak terikat dengan apapun, termasuk usaha yang dilakukan hambanya.<br />
Jadi, kita harus membuat hati kita siap menerima apapun. Jangan pedulikan sekeras apa usaha yang sudah kita lakukan.</li>
</ol>
<p><strong>Allah tidak memerlukan tenaga kita sedikitpun untuk mewujudkan segala sesuatu.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20100707/hanya-ada-1-pilihan-saja-dalam-hidup-ini.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adilkah raja Huta Uthopia ?</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20100618/adil-raja-huta-uthopia.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20100618/adil-raja-huta-uthopia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 08:31:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado Gado]]></category>

		<category><![CDATA[Ladang Bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[Resep Masakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah ada sebuah peristiwa di negeri Uthopia dahulu kala. Kehidupan di negeri itu sungguh adil, damai dan tenang pula. Setidaknya demikianlah yang dirasakan para penduduk dan rajanya selama sekian lama.
Namun pada suatu ketika ada sebuah ujian penting dari seorang raja yang menuntut sikap dan keputusan penting dari para warganya pula. Singkat ceritanya kira-kira seperti ini:
Raja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah ada sebuah peristiwa di negeri Uthopia dahulu kala. Kehidupan di negeri itu sungguh adil, damai dan tenang pula. Setidaknya demikianlah yang dirasakan para penduduk dan rajanya selama sekian lama.</p>
<p>Namun pada suatu ketika ada sebuah ujian penting dari seorang raja yang menuntut sikap dan keputusan penting dari para warganya pula. <span id="more-91"></span><em>Singkat ceritanya kira-kira seperti ini:</em></p>
<p>Raja negeri Uthopia telah memikirkan sekian lama apakah harus membuat keputusan untuk memerintahkan rakyatnya untuk pindah ke daerah baru yang lebih menjanjikan bagi rakyatnya. Daerah lama yang menjadi pusat penduduk tidak lagi bisa diharapkan untuk kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. Tanah sudah sedemikian tandus dengan curah hujan yang sangat sedikit serta aliran sungai yang tidak cukup. Selain itu daerah penduduk yang rawan dengan bencana dirasakan semakin tidak aman lagi bagi penduduknya. Selain itu mungkin masih ada pertimbangan lain yang membuat raja merancang keputusan itu dan akan mengeluarkannya segera.</p>
<p>Di tengah desas-desus antar warga setelah sekian lama, saat-saat yang yang dinanti-nantikanpun tiba. Walaupun dengan proses pro kontra dengan penasehat kerajaan, akhirnya raja mengeluarkan keputusan untuk meminta (bukan memerintah) warganya untuk exodus ke sebuah daerah baru di bagian sana. Dalam keputusan raja dibacakan beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan itu sekaligus juga dikumandangkan rencana jangka panjang raja di daerah yang ‘menjanjikan’ itu.</p>
<p>Pada hari hijrah yang ditentukan, ternyata apa yang dikuatirkan beberapa penasehat raja benar-benar terjadi. Tidak semua warga mengikuti permintaan raja sehingga tidak sedikit warga yang tinggal di desa lama. Sebagian besar wargapun mengikuti perjalanan yang melelahkan dengan melewati hutan membuka jalan baru menembus dan akhirnya tiba di sebuah daerah yang dijanjikan sang raja. Bukan hanya itu saja, tetapi sekian lama warga harus banting tulang membuka desa dengan mencari bahan-bahan di hutan untuk membangun gubuk-gubuk dan rumah panggung untuk sementara, sambil menyiapkan lahan bercocok tanam dan segala kegiatan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah desa tempat mereka bermukim dan memulai kehidupan baru.</p>
<p>Waktu yang mereka butuhkan cukup lama dan sepertinya baru setengah dari warga yang mengetahui bahwa sudah hampir seluruh rencana sudah terlaksana. Tinggal beberapa hal penting yang masih harus dilakukan agar semua kegiatan panjang sebelumnya bisa berwujud dan hasilnya dapat dirasakan warga.</p>
<p>Kegiatanpun tetap dilaksanakan disana sini. Rasanya semangat para warga tidak pernah kendor laksana api yang bersumber dari bumi yang selalu menyala-nyala.</p>
<p>Namun tibalah suatu ketika dimana warga di desa baru kedatangan bala bantuan yang tidak diharapkan sebagian besar warga. Keputusan raja untuk menerima bantuan dalam merampungkan beberapa pekerjaan dirasakan tidak berkenan bagi sebagian warga desa baru.</p>
<p>Bala bantuan yang datang adalah warga dari desa lama dianggap tidak perlu meskipun mereka telah yang lebih dulu menghadap raja dan menyesali tindakannya bahwa dulunya tidak mengikuti permintaan raja agar ikut bersama warga exodus ke daerah baru – tempat saat ini mereka diterima.</p>
<p>Sebagian besar warga desa baru mencibir dan sama sekali tidak menerima bantuan yang datang dengan alasan bahwa pekerjaan sudah berjalan sedemikian jauh serta tidak membutuhkan pahlawan kesiangan sebagaimana kedatangan mereka.</p>
<p>Usaha para pendatang untuk bisa membaur menyelesaikan pekerjaan nampaknya tidak bisa diterima dengan mudah. Walaupun mereka berjanji akan mau dijadikan sebagai pembantu bagi para penghuni desa baru nantinya.</p>
<p>Polemik tetap terjadi di tengah dua komunitas yang mulai terlihat ‘berbeda’. Namun segalanya tetap dalam perhatian raja, sehingga semua warga tetap melakukan pekerjaannya walaupun sebagian ada yang merasa dongkol dan sebagian ada yang merasa harus tetap mengambil hati dan memposisikan diri sebagai hamba bagi para tuannya. Tidak sedikit juga orang-orang yang dongkol dan akhirnya menunjukkan penurunan semangatnya dalam bekerja. Ada juga yang akhirnya tidak mau bekerja di saat harus bersatu dengan bala bantuan dari desa lama. Dan bahkan ada yang berhenti bekerja sama sekali karena keputusan raja menerima bantuan dari para penduduk desa lama tersebut.</p>
<p>Waktupun berlalu sekian lama dan akhirnya terciptalah sebuah desa impian yang dulunya hanya sebuah khayalan bagi warganya. Segala ‘infrastuktur’ yang layak pada saat itupun telah tersedia sedemikian indahnya di mata para warga. Namun ada hari yang ditunggu-tunggu semua warga – untuk mendengar keputusan raja terhadap pembagian gubuk-gubuk, sawah-ladang, area berburu, area pencarian ikan layaknya sebuah keluarga yang diberikan hal mengelola dan menikmati apa yang menjadi haknya.</p>
<p>Saat yang dinanti-nanti itupun akhirnya tiba. Raja memutuskan bahwa seluruh warga desa lama yang ikut bekerja – menyelesaikan pembuatan desa baru  mempunyai hak yang sama dengan sebagian besar warga desa baru. Mereka diberikan lahan, gubuk dan area pengambilan ikan serta area berburu yang ukuran dan potensinya sama dengan warga desa baru. Dan yang lebih mengherankan warga adalah raja tidak mengumumkan pembagian apapun  terhadap penduduk desa baru yang akhirnya berhenti – tidak menyelesaikan pekerjaan membuka desa dengan alasan kedongkolannya terhadap kedatangan warga desa lama.</p>
<p>Kisah inipun ditutup dengan sebuah pengakuan sejarah bahwa desa baru – yang mereka sebut Huta Uthopia (desa impian - Red) menjadi besar dan makmur. Tidak hanya itu, disebut pula bahwa Huta Uthophia  dibuat dalam masa keteladanan seorang raja yang luar biasa.</p>
<p>Pertanyaannya adalah: Adilkah atau bijakkah sang raja telah memberikan pembagian kepada warga desa lama sama besarnya dengan pembagian kepada warga desa baru serta tidak mengumumkan pembagian yang didapat oleh sebagian warga desa barunya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20100618/adil-raja-huta-uthopia.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saling Bergandeng Tangan</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20091110/saling-bergandeng-tangan.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20091110/saling-bergandeng-tangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 04:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk  memegang dan menggenggam tangan kita.
Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya.Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, &#8220;Putramu disini.&#8221;
Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk  memegang dan menggenggam tangan kita.</p>
<p>Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya.Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, &#8220;Putramu disini.&#8221;<span id="more-90"></span></p>
<p>Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka sebentar, lalu menutup kembali, ibarat nyala lilin yang padam. Pemuda itu menaruh tangan pria tua itu kedalam tangannya sendiri, [ia tekan, remas2 dan memegangnya] dan duduk  disamping tempat tidurnya. Sepanjang malam ia duduk disana, menggenggam tangan orang tua itu dan membisikkan kata2 penghibur.</p>
<p>Pagi2 sekali esok harinya, pasien itu ternyata meninggal. Dalam sekejab saja para staf rumah sakit berlarian memenuhi ruangan itu, mematikan mesin2<br />
serta mencabut segala macam jarum2 suntik. Seorang perawat melangkah mendekati pemuda itu dan mulai menghiburnya, ikut berbagi duka cita, tapi ia menyelanya.</p>
<p>&#8220;Siapakah bapak itu?&#8221; tanyanya. Perawat yang terperangah dan kaget itu menjawab, &#8220;Lhooh, saya tadinya pikir ia ayahmu!&#8221;  &#8221; Bukan.., oh.. ia bukan ayahku,&#8221; jawabnya balik.  &#8220;Seumur hidupku, ini    pertama kali aku melihatnya.&#8221;  &#8220;Lantas., lha anda kok diam saja waktu kutuntun kau kepadanya kemarin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sadar ia memerlukan dan mendambakan anaknya dan putranya tidak ada disini&#8221;, orang itu menerangkan. &#8220;Dan karena aku tahu ia sebegitu parah sakitnya    sehingga tak mengenali aku bukan anaknya, aku tahu ia memerlukan aku.&#8221;</p>
<p>Tak seorangpun layak dan harus mati sendirian. Makanya, tidak seorangpun pantas harus berduka cita maupun menangis sendiri juga. Ataupun tertawa sendiri, atau merayakan sendiri.<br />
Kita diciptakan untuk mengarungi perjalanan hidup ini bergandengan tangan.</p>
<p>Ada seseorang yang hari ini siap sedia untuk menggandeng dan menjabat tanganmu.  Dan seseorang yang berharap kau akan menggenggam tangan2nya. Ingatlah untuk selalu saling bergantung dan saling bantu membantu satu sama<br />
lainnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20091110/saling-bergandeng-tangan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aku? Biasa - Biasa Aja</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20091022/aku-biasa-biasa-aja.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20091022/aku-biasa-biasa-aja.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 02:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Dari tetanggak sebelah  
Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari tetanggak sebelah <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).</p>
<p>Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang  sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.<span id="more-89"></span></p>
<p>Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.</p>
<p>&#8220;Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu&#8230;! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar&#8230;.pokoknya pinter sekali&#8230;.!&#8221; katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus &#8230;sekali! Kalau si Yahya hfalannya banyaaak&#8230; sekali!&#8221;</p>
<p>Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika  mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, &#8221; Kalau mbak Fani pinter apa?&#8221; Ia menjawab dengan cengiran khasnya, &#8220;Hehehe&#8230;kalau aku, sih, biasa-biasa saja&#8221;. Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.</p>
<p>Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.</p>
<p>Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5  tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. &#8220;Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?&#8221;<br />
Adiknya saling tunjuk.&#8221;Hayo, jujur &#8230;1Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya&#8230; saling memaafkan&#8221;.</p>
<p>Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! &#8220;Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku  dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan &#8230;&#8221;</p>
<p>Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.</p>
<p>Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan<br />
kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu.</p>
<p>Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.</p>
<p>Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai  ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.</p>
<p>Maka ketika Fani mengatakan &#8220;AKU BIASA-BIASA SAJA&#8221;, maka saat itu ibunya menjawab &#8220;Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?&#8221; Ya&#8230; ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah.</p>
<p>Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.</p>
<p>Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalu belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20091022/aku-biasa-biasa-aja.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati pada dokter</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20090316/hati-hati-pada-dokter.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20090316/hati-hati-pada-dokter.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 07:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado Gado]]></category>

		<category><![CDATA[dokter]]></category>

		<category><![CDATA[hati hati]]></category>

		<category><![CDATA[oknum dokter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Ok, ini hanya copy paste ya. Yang merasa sebagai oknum, silahkan sembunyi dulu  
Sender: sehat@yahoogroups. com
Sent: Mar 7, 2009 10:48
halo rekan-rekan. . .. Ini tulisan yang mungkin &#8216;aneh&#8217;, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter.
Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai &#8216;caveat venditor&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ok, ini hanya copy paste ya. Yang merasa sebagai oknum, silahkan sembunyi dulu <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sender: sehat@yahoogroups. com<br />
Sent: Mar 7, 2009 10:48</p>
<p>halo rekan-rekan. . .. Ini tulisan yang mungkin &#8216;aneh&#8217;, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter.<br />
Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai &#8216;caveat venditor&#8217; (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .</p></blockquote>
<p><span id="more-88"></span></p>
<blockquote><p>Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan &amp; tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya. Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat,  nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.</p>
<p>Mulai di UGD sudah &#8216;mencurigakan&#8217; , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an &amp; pertanyaan dari<br />
dokter &amp; perawat yang menurut saya &#8216;menggelikan&#8217; . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai &#8216;ribut&#8217; karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung),  padahal dia nggak sakit lambung, &amp; nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab..</p>
<p>Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung &amp; biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya &#8216;bagus &amp; pintar&#8217;, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS. Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang &#8216;nggak nyambung&#8217;, jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.</p>
<p>Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite &amp; nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker &amp; menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya &#8216;obat suntiknya mana?&#8217;, saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter &amp; saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya.</p>
<p>Malah saya dipanggil ke nurse station &amp; diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung.<br />
Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang &#8216;bengong&#8217;. Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal &amp; sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik &amp; hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain.</p>
<p>Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong &#8217;sakit ya?&#8217;, &#8216;masih panas?&#8217;, &#8216;ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya&#8217;, visite nggak sampai 3 menit saya hitung.</p>
<p>Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali &amp; nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan &amp; dibuat &#8216;miskin&#8217;<br />
untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah<br />
&#8216;dibayar&#8217; cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul &amp; menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite. Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan &amp; jadi racun di tubuhnya.</p>
<p>Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh<br />
dokter penyakit dalamnya.</p>
<p>Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.<br />
Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati &amp; kritis pada pengobatan dokter.</p>
<p>rgds Billy</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20090316/hati-hati-pada-dokter.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20090122/perempuan-yg-dicintai-suamiku.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20090122/perempuan-yg-dicintai-suamiku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 01:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.  Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario  tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia  cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah,  mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.  Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario  tampak baik dan lebih<span style="color: navy;"><span style="color: navy;"> </span></span>menuruti apa mauku.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia  cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah,  mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. </span>Tidurnya sangat sedikit,  makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.</span></span><span id="more-87"></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Dia  menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja,  itupun kalau aku masih bangun. </span>Karena waktu pacaran dia tidak pernah  romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2  seperti itu sebagai ungkapan sayang.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi  nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. </span>Kalau  kami makan di <span><span>meja makan</span></span> berdua, kami asyik sendiri  dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring  yang beradu dengan sendok garpu.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran  dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena  dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa  lepas.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Aku  mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. </span>Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek  sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,  dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena  sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang  perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya  Mario saat dulu kuliah.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi  aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. </span>Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia  berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang  ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin  serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama  mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya  teman yang akrab. </span>5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan  kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising  akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan  tempatnya bekerja.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Aku mulai  mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau  pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih  dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi  disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang  Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang  membingungkan.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit  dan masih dirawat di RS. </span>Aku sedang memegang sepiring nasi beserta  lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk  kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>&#8221; Hai Rima,  kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh…  dasar anak nakal, sini piringnya, &#8221; lalu dia terus mengajak Mario bercerita  sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya.  Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata  suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui  bersamanya, tidak pernah sedetikpun !</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Hatiku  terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku  saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit  setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa  sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah.  Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun  perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka  mencumbu komputernya dibanding aku.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat  perempuan itu. </span>Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan  donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang  mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang  lucu2.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Aku tidak  pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena  tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak  dihatinya.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku  tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis  kemudian.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7  tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. </span>Dia  berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, &#8221; Mama, mau lihat  surat papa buat tante Meisha ?&#8221;</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Aku  tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,</span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Dear Meisha,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi  seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini,  bahkan pada Rima. </span>Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku  mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku  sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku  memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak  menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2  terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup  mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi  kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku  menikahinya.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Aku  tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta  untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa  pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara  yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu  yang aku rasakan.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah  menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen  pernikahan kami. </span>Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal  aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia  inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku,  tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada  tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are  the only one in my heart.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">yours,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Mario</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Mataku terasa panas. <span>Jelita</span></span>, anak  sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat  jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Suamiku  tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai  perempuan lain.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Aku  mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk  suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak  pernah aku berikan untuknya.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. </span>Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu  aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran,  karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas  dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena  aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata  dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Betapa  tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang  berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan  saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku  hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku.  Betapa malangnya nasibku.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya  dengan setia. </span>Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya.  Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan  itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu  mencintainya.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>**********</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Setahun  kemudian…</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Meisha  membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih  basah merah dan masih dipenuhi bunga.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">&#8221;  <em><em><span>Mario,  suamiku….</span></em></em></span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku  pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. </span>Aku  begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku  ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif  ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan  tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan  menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak  pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau  melakukan apa saja untukku…..</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari  setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang  teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai  Mario.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, &#8221;  kenapa, Rima ? </span>Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku  sudah memilihmu menjadi istriku ?&#8221;</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan  sombongnya.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. </span>Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam  kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau  inginkan.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Istrimu,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Rima&#8221;</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">D</span></span></em></em><span lang="SV">i surat yang  lain,</span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">&#8220;………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau  tidak lagi sedingin es. </span>Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku  tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat  cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang  Meisha……&#8221;</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Disurat yang kesekian,</span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">&#8220;…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta  padaku.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Aku  telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak  lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan  selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau  menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum  menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan  sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku  tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur  disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit  pencernaanmu yang selalu bermasalah…….</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu,  aku akan tetap berusaha dan menantinya……..&#8221;</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua  mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu  disampingnya.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Disurat terakhir, pagi ini…</span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">&#8220;…………..</span></span></em></em><em>Hari ini<em><em><span> adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. </span></em></em><em><em><span>Tahun lalu engkau tidak  pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku  akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya  dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang  hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.</span></em></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar  kekhawatiran dimatamu. </span>Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju  supaya tidak sakit.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Tahukah engkau suamiku,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita  pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar  kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu  ?………&#8221;</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Jelita menatap Meisha, dan bercerita,</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">&#8221;  Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan  diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. </span>Aku tidak  pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia  begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu  menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang  jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak  sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum  dia tidak lagi bergerak……&#8221; Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik  ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat  dewasa.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi  pagi. </span>Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin  Rima membacanya.</span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Dear Meisha,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia  tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. </span>Dan tadi, dia  pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan  memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia.  Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya  ?</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau  sarankan, Meisha. </span>Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku  akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor  kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan  jiwaku….</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang  masih terduduk disamping nisan Rima. </span>Diwajahnya tampak duka yang dalam.  Semuanya telah terjadi, Mario. <strong><strong><em><span><span style="font-style: italic;">Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,  ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan  kita.</span></span></em></strong></strong></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span style="font-size: 10pt; "> (dedicated to my friend&#8230;.may you rest in peace&#8230;) </span></span></span></p>
<p>Yesterday is a history.<br />
Tomorrow is a  mystery.<br />
Today is a gift.<br />
That&#8217;s why it&#8217;s called  &#8220;present&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20090122/perempuan-yg-dicintai-suamiku.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AKU MENANGIS UNTUK ADIK-KU 6 KALI</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081127/aku-menangis-untuk-adik-ku-6-kali.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081127/aku-menangis-untuk-adik-ku-6-kali.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 08:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.</p>
<p>Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.</p>
<p>&#8220;Siapa yang mencuri uang itu?&#8221; Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, &#8220;Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!&#8221; Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, &#8220;Ayah, aku yang melakukannya!&#8221;<span id="more-86"></span></p>
<p>Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, &#8220;Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? &#8230; Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!&#8221;</p>
<p>Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, &#8220;Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.&#8221;</p>
<p>Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.</p>
<p>Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demibungkus. Saya mendengarnya memberengut, &#8220;Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik&#8230;hasil yang begitu baik&#8230;&#8221; Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, &#8220;Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?&#8221;</p>
<p>Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, &#8220;Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.&#8221; Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. &#8220;Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!&#8221; Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam<br />
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan<br />
berkata, &#8220;Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.&#8221; Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.</p>
<p>Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalka rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: &#8220;Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.&#8221;</p>
<p>Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.</p>
<p>Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku<br />
masuk dan memberitahukan, &#8220;Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!&#8221;</p>
<p>Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, &#8220;Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?&#8221; Dia menjawab, tersenyum, &#8220;Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?&#8221;</p>
<p>Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, &#8220;Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu&#8230;&#8221;</p>
<p>Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, &#8220;Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.&#8221; Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.</p>
<p>Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. &#8220;Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan<br />
rumah kita!&#8221; Tetapi katanya, sambil tersenyum, &#8220;Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk<br />
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..&#8221;</p>
<p>Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. &#8220;Apakah itu sakit?&#8221; Aku menanyakannya. &#8220;Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi<br />
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itU tidak menghentikanku bekerja dan&#8230;&#8221; Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.</p>
<p>Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, &#8220;Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.&#8221;</p>
<p>Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.</p>
<p>Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, &#8220;Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya sepert ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?&#8221;</p>
<p>Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. &#8220;Pikirkan kakak ipar&#8211;ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?&#8221;</p>
<p>Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: &#8220;Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa membicarakan masa lalu?&#8221; Adikku menggenggam tanganku. Tahunitu, ia berusia 26 dan aku 29.</p>
<p>Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, &#8220;Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?&#8221; Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, &#8220;Kakakku.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. &#8220;Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya<br />
kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.&#8221;</p>
<p>Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.</p>
<p>Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, &#8220;Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.&#8221; Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.</p>
<p>Diterjemahkan dari : &#8220;I cried for my brother six times&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081127/aku-menangis-untuk-adik-ku-6-kali.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GAJI PAPA BERAPA ?</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081127/gaji-papa-berapa.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081127/gaji-papa-berapa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 07:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Dari milis tetangga
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di  Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya,  Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu  untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
&#8220;Kok, belum tidur ?&#8221;  sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 10pt;"><span><span>Dari milis tetangga</span></span></span></p>
<p>Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di  Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.</p>
<p>Tidak seperti biasanya,  Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu  untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.</p>
<p>&#8220;Kok, belum tidur ?&#8221;  sapa Andrew sambil mencium anaknya.</p>
<p>Biasanya Sarah memang sudah lelap  ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.</p>
<p>Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, &#8220;Aku  nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?&#8221; <span id="more-85"></span></p>
<p>&#8220;Lho  tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, enggak.  Pengen tahu aja&#8221; ucap Sarah singkat.</p>
<p>&#8220;Oke. Kamu boleh hitung sendiri.  Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan  rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih  lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?&#8221;</p>
<p>Sarah berlari  mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas  sepatu dan menyalakan televisi.</p>
<p>Ketika Andrew beranjak menuju kamar  untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. &#8220;Kalo satu hari Papa dibayar  Rp. 400..000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong&#8221;  katanya..</p>
<p>&#8220;Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur&#8221; perintah  Andrew.</p>
<p>Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti  pakaian, Sarah kembali bertanya, &#8220;Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak  ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam  begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi Papaâ..¦&#8221;</p>
<p>Kesabaran Andrew pun habis. &#8220;Papa bilang tidur !&#8221; hardiknya mengejutkan  Sarah.</p>
<p>Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.</p>
<p>Usai mandi,  Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak  kesayangannya itu belum tidur.</p>
<p>Sarah didapati sedang terisak-isak pelan  sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus  kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, &#8220;Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama  Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan,  besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih&#8221; jawab Andrew</p>
<p>&#8220;Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan  kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini&#8221;.</p>
<p>&#8220;lya, iya,  tapi buat apa ?&#8221; tanya Andrew lembut.</p>
<p>&#8220;Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku  mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo  waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka  tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar  Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit  tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa&#8221; kata Sarah polos</p>
<p>Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu  erat-erat dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata . Dia baru menyadari,  ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk &#8220;membeli&#8221;  kebahagiaan anaknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081127/gaji-papa-berapa.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aja sampek ditumpaki motor</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081120/aja-sampek-ditumpaki-motor.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081120/aja-sampek-ditumpaki-motor.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 19:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Advertising]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan Pribadi]]></category>

		<category><![CDATA[kendalikan nafsu]]></category>

		<category><![CDATA[nafsu]]></category>

		<category><![CDATA[pentingnya nafsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Kanggone manungsa, nefsu iku nduweni peranan sing penting. Kita kudu ngereh nefsu iki minangka dadi tunggangan marek maring allah sahinnga tumeka. Aja sampe suwalike malah di tunggangi nefsu. Ati, roh lan rasa dipaeka, dikunjara, dipeksa nuruti nefsu. Marek maring allah yen tanpa nunggang nefsu, bakal kangelan. Isa isa ngibadah 3000 tahun nembe isa tumeka. Nanging [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.pashnit.com/forum/attachment.php?s=bf2138a6a6f4542b86729aa64fd86960&amp;attachmentid=665&amp;stc=1&amp;d=1100902387" alt="" width="110" />Kanggone manungsa, nefsu iku nduweni peranan sing penting. Kita kudu ngereh nefsu iki minangka dadi tunggangan marek maring allah sahinnga tumeka. Aja sampe suwalike malah di tunggangi nefsu. Ati, roh lan rasa dipaeka, dikunjara, dipeksa nuruti nefsu. Marek maring allah yen tanpa nunggang nefsu, bakal kangelan. Isa isa ngibadah 3000 tahun nembe isa tumeka. Nanging yen isa nunggangi nefsune, sak tutup ajale dhewe-dhewe isa tumeka kanthi slamet.</p>
<p><span id="more-84"></span>Akeh sing ngarani nefsu yaiku muring2, neson, gumedhe, riya&#8217;, maksiat lan liya liyane. Nangin sak jane dudu iku thok. Iku mau nefsu sing kasar. Kaya dene seneng ibadah, seneng ngamal, taubat, apike budi pekerti, pinter, kamulyan lan sapanunggalane uga isa diarane nefsu yen isih diakoni.</p>
<p>Mula sejatine kita manungsa kari sadermo tandang. Amerga sejatine sing ngobahne, sing pinter, sing duwe, sing kuwat ya mung gusti allah.</p>
<p>Wujude nefsu ora liya ya ndonya iki. Lan hakekate ndonya ora liya ujude jiwa ragane dhewe-dhewe. Nunggang nefsu isa cepet marek marang allah, yen ditunggangi nefsu ya ra bisa nyandi-nyadi. Numpak motor isa cepet sampe tujuan, yen ditumpaki motor, isa-isa mati nek enggon.</p>
<p>Lha posisiku saiki,<br />
lagi numpak motor, apa malah ditumpaki motor ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081120/aja-sampek-ditumpaki-motor.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
