<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Berusaha Menjadi Sukses</title>
	<atom:link href="http://www.wahjoe.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wahjoe.com</link>
	<description>Sukses saat hidup, saat mati, dan saat dihidupkan kembali.</description>
	<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 04:58:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Saling Bergandeng Tangan</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20091110/saling-bergandeng-tangan.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20091110/saling-bergandeng-tangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 04:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk  memegang dan menggenggam tangan kita.
Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya.Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, &#8220;Putramu disini.&#8221;
Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk  memegang dan menggenggam tangan kita.</p>
<p>Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya.Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, &#8220;Putramu disini.&#8221;<span id="more-90"></span></p>
<p>Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka sebentar, lalu menutup kembali, ibarat nyala lilin yang padam. Pemuda itu menaruh tangan pria tua itu kedalam tangannya sendiri, [ia tekan, remas2 dan memegangnya] dan duduk  disamping tempat tidurnya. Sepanjang malam ia duduk disana, menggenggam tangan orang tua itu dan membisikkan kata2 penghibur.</p>
<p>Pagi2 sekali esok harinya, pasien itu ternyata meninggal. Dalam sekejab saja para staf rumah sakit berlarian memenuhi ruangan itu, mematikan mesin2<br />
serta mencabut segala macam jarum2 suntik. Seorang perawat melangkah mendekati pemuda itu dan mulai menghiburnya, ikut berbagi duka cita, tapi ia menyelanya.</p>
<p>&#8220;Siapakah bapak itu?&#8221; tanyanya. Perawat yang terperangah dan kaget itu menjawab, &#8220;Lhooh, saya tadinya pikir ia ayahmu!&#8221;  &#8221; Bukan.., oh.. ia bukan ayahku,&#8221; jawabnya balik.  &#8220;Seumur hidupku, ini    pertama kali aku melihatnya.&#8221;  &#8220;Lantas., lha anda kok diam saja waktu kutuntun kau kepadanya kemarin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sadar ia memerlukan dan mendambakan anaknya dan putranya tidak ada disini&#8221;, orang itu menerangkan. &#8220;Dan karena aku tahu ia sebegitu parah sakitnya    sehingga tak mengenali aku bukan anaknya, aku tahu ia memerlukan aku.&#8221;</p>
<p>Tak seorangpun layak dan harus mati sendirian. Makanya, tidak seorangpun pantas harus berduka cita maupun menangis sendiri juga. Ataupun tertawa sendiri, atau merayakan sendiri.<br />
Kita diciptakan untuk mengarungi perjalanan hidup ini bergandengan tangan.</p>
<p>Ada seseorang yang hari ini siap sedia untuk menggandeng dan menjabat tanganmu.  Dan seseorang yang berharap kau akan menggenggam tangan2nya. Ingatlah untuk selalu saling bergantung dan saling bantu membantu satu sama<br />
lainnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20091110/saling-bergandeng-tangan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aku? Biasa - Biasa Aja</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20091022/aku-biasa-biasa-aja.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20091022/aku-biasa-biasa-aja.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 02:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Dari tetanggak sebelah  
Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari tetanggak sebelah <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).</p>
<p>Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang  sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.<span id="more-89"></span></p>
<p>Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.</p>
<p>&#8220;Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu&#8230;! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar&#8230;.pokoknya pinter sekali&#8230;.!&#8221; katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus &#8230;sekali! Kalau si Yahya hfalannya banyaaak&#8230; sekali!&#8221;</p>
<p>Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika  mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, &#8221; Kalau mbak Fani pinter apa?&#8221; Ia menjawab dengan cengiran khasnya, &#8220;Hehehe&#8230;kalau aku, sih, biasa-biasa saja&#8221;. Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.</p>
<p>Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.</p>
<p>Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5  tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. &#8220;Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?&#8221;<br />
Adiknya saling tunjuk.&#8221;Hayo, jujur &#8230;1Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya&#8230; saling memaafkan&#8221;.</p>
<p>Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! &#8220;Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku  dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan &#8230;&#8221;</p>
<p>Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.</p>
<p>Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan<br />
kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu.</p>
<p>Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.</p>
<p>Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai  ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.</p>
<p>Maka ketika Fani mengatakan &#8220;AKU BIASA-BIASA SAJA&#8221;, maka saat itu ibunya menjawab &#8220;Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?&#8221; Ya&#8230; ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah.</p>
<p>Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.</p>
<p>Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalu belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20091022/aku-biasa-biasa-aja.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati pada dokter</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20090316/hati-hati-pada-dokter.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20090316/hati-hati-pada-dokter.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 07:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado Gado]]></category>

		<category><![CDATA[dokter]]></category>

		<category><![CDATA[hati hati]]></category>

		<category><![CDATA[oknum dokter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Ok, ini hanya copy paste ya. Yang merasa sebagai oknum, silahkan sembunyi dulu  
Sender: sehat@yahoogroups. com
Sent: Mar 7, 2009 10:48
halo rekan-rekan. . .. Ini tulisan yang mungkin &#8216;aneh&#8217;, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter.
Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai &#8216;caveat venditor&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ok, ini hanya copy paste ya. Yang merasa sebagai oknum, silahkan sembunyi dulu <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sender: sehat@yahoogroups. com<br />
Sent: Mar 7, 2009 10:48</p>
<p>halo rekan-rekan. . .. Ini tulisan yang mungkin &#8216;aneh&#8217;, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter.<br />
Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai &#8216;caveat venditor&#8217; (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .</p></blockquote>
<p><span id="more-88"></span></p>
<blockquote><p>Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan &amp; tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya. Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat,  nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.</p>
<p>Mulai di UGD sudah &#8216;mencurigakan&#8217; , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an &amp; pertanyaan dari<br />
dokter &amp; perawat yang menurut saya &#8216;menggelikan&#8217; . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai &#8216;ribut&#8217; karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung),  padahal dia nggak sakit lambung, &amp; nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab..</p>
<p>Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung &amp; biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya &#8216;bagus &amp; pintar&#8217;, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS. Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang &#8216;nggak nyambung&#8217;, jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.</p>
<p>Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite &amp; nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker &amp; menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya &#8216;obat suntiknya mana?&#8217;, saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter &amp; saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya.</p>
<p>Malah saya dipanggil ke nurse station &amp; diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung.<br />
Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang &#8216;bengong&#8217;. Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal &amp; sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik &amp; hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain.</p>
<p>Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong &#8217;sakit ya?&#8217;, &#8216;masih panas?&#8217;, &#8216;ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya&#8217;, visite nggak sampai 3 menit saya hitung.</p>
<p>Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali &amp; nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan &amp; dibuat &#8216;miskin&#8217;<br />
untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah<br />
&#8216;dibayar&#8217; cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul &amp; menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite. Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan &amp; jadi racun di tubuhnya.</p>
<p>Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh<br />
dokter penyakit dalamnya.</p>
<p>Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.<br />
Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati &amp; kritis pada pengobatan dokter.</p>
<p>rgds Billy</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20090316/hati-hati-pada-dokter.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20090122/perempuan-yg-dicintai-suamiku.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20090122/perempuan-yg-dicintai-suamiku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 01:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.  Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario  tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia  cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah,  mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.  Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario  tampak baik dan lebih<span style="color: navy;"><span style="color: navy;"> </span></span>menuruti apa mauku.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia  cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah,  mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. </span>Tidurnya sangat sedikit,  makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.</span></span><span id="more-87"></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Dia  menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja,  itupun kalau aku masih bangun. </span>Karena waktu pacaran dia tidak pernah  romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2  seperti itu sebagai ungkapan sayang.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi  nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. </span>Kalau  kami makan di <span><span>meja makan</span></span> berdua, kami asyik sendiri  dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring  yang beradu dengan sendok garpu.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran  dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena  dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa  lepas.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Aku  mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. </span>Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek  sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,  dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena  sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang  perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya  Mario saat dulu kuliah.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi  aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. </span>Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia  berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang  ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin  serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama  mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya  teman yang akrab. </span>5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan  kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising  akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan  tempatnya bekerja.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Aku mulai  mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau  pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih  dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi  disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang  Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang  membingungkan.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit  dan masih dirawat di RS. </span>Aku sedang memegang sepiring nasi beserta  lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk  kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>&#8221; Hai Rima,  kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh…  dasar anak nakal, sini piringnya, &#8221; lalu dia terus mengajak Mario bercerita  sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya.  Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata  suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui  bersamanya, tidak pernah sedetikpun !</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Hatiku  terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku  saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit  setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa  sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah.  Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun  perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka  mencumbu komputernya dibanding aku.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat  perempuan itu. </span>Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan  donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang  mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang  lucu2.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Aku tidak  pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena  tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak  dihatinya.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku  tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis  kemudian.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7  tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. </span>Dia  berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, &#8221; Mama, mau lihat  surat papa buat tante Meisha ?&#8221;</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Aku  tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,</span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Dear Meisha,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi  seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini,  bahkan pada Rima. </span>Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku  mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku  sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku  memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak  menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2  terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup  mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi  kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku  menikahinya.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Aku  tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta  untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa  pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara  yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu  yang aku rasakan.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah  menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen  pernikahan kami. </span>Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal  aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia  inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku,  tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada  tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are  the only one in my heart.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">yours,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Mario</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Mataku terasa panas. <span>Jelita</span></span>, anak  sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat  jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Suamiku  tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai  perempuan lain.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Aku  mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk  suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak  pernah aku berikan untuknya.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. </span>Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu  aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran,  karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas  dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena  aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata  dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Betapa  tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang  berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan  saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku  hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku.  Betapa malangnya nasibku.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya  dengan setia. </span>Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya.  Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan  itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu  mencintainya.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>**********</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Setahun  kemudian…</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span>Meisha  membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih  basah merah dan masih dipenuhi bunga.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">&#8221;  <em><em><span>Mario,  suamiku….</span></em></em></span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku  pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. </span>Aku  begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku  ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif  ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan  tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan  menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak  pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau  melakukan apa saja untukku…..</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari  setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang  teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai  Mario.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, &#8221;  kenapa, Rima ? </span>Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku  sudah memilihmu menjadi istriku ?&#8221;</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan  sombongnya.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. </span>Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam  kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau  inginkan.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Istrimu,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Rima&#8221;</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">D</span></span></em></em><span lang="SV">i surat yang  lain,</span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">&#8220;………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau  tidak lagi sedingin es. </span>Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku  tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat  cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang  Meisha……&#8221;</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Disurat yang kesekian,</span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">&#8220;…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta  padaku.</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Aku  telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak  lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan  selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau  menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum  menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan  sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku  tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur  disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit  pencernaanmu yang selalu bermasalah…….</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu,  aku akan tetap berusaha dan menantinya……..&#8221;</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua  mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu  disampingnya.</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Disurat terakhir, pagi ini…</span></span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">&#8220;…………..</span></span></em></em><em>Hari ini<em><em><span> adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. </span></em></em><em><em><span>Tahun lalu engkau tidak  pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku  akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya  dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang  hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.</span></em></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar  kekhawatiran dimatamu. </span>Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju  supaya tidak sakit.</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Tahukah engkau suamiku,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span>Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita  pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar  kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu  ?………&#8221;</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Jelita menatap Meisha, dan bercerita,</span></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">&#8221;  Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan  diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. </span>Aku tidak  pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia  begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu  menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang  jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak  sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum  dia tidak lagi bergerak……&#8221; Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik  ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat  dewasa.</span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi  pagi. </span>Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin  Rima membacanya.</span></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Dear Meisha,</span></span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia  tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. </span>Dan tadi, dia  pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan  memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia.  Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya  ?</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><em><em><span style=" "><span lang="SV">Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau  sarankan, Meisha. </span>Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku  akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor  kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan  jiwaku….</span></em></em></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span lang="SV">Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang  masih terduduk disamping nisan Rima. </span>Diwajahnya tampak duka yang dalam.  Semuanya telah terjadi, Mario. <strong><strong><em><span><span style="font-style: italic;">Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,  ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan  kita.</span></span></em></strong></strong></span></span></p>
<p><span style=" "><span style=" "><span style="font-size: 10pt; "> (dedicated to my friend&#8230;.may you rest in peace&#8230;) </span></span></span></p>
<p>Yesterday is a history.<br />
Tomorrow is a  mystery.<br />
Today is a gift.<br />
That&#8217;s why it&#8217;s called  &#8220;present&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20090122/perempuan-yg-dicintai-suamiku.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AKU MENANGIS UNTUK ADIK-KU 6 KALI</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081127/aku-menangis-untuk-adik-ku-6-kali.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081127/aku-menangis-untuk-adik-ku-6-kali.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 08:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.</p>
<p>Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.</p>
<p>&#8220;Siapa yang mencuri uang itu?&#8221; Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, &#8220;Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!&#8221; Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, &#8220;Ayah, aku yang melakukannya!&#8221;<span id="more-86"></span></p>
<p>Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, &#8220;Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? &#8230; Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!&#8221;</p>
<p>Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, &#8220;Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.&#8221;</p>
<p>Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.</p>
<p>Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demibungkus. Saya mendengarnya memberengut, &#8220;Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik&#8230;hasil yang begitu baik&#8230;&#8221; Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, &#8220;Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?&#8221;</p>
<p>Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, &#8220;Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.&#8221; Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. &#8220;Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!&#8221; Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam<br />
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan<br />
berkata, &#8220;Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.&#8221; Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.</p>
<p>Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalka rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: &#8220;Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.&#8221;</p>
<p>Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.</p>
<p>Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku<br />
masuk dan memberitahukan, &#8220;Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!&#8221;</p>
<p>Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, &#8220;Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?&#8221; Dia menjawab, tersenyum, &#8220;Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?&#8221;</p>
<p>Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, &#8220;Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu&#8230;&#8221;</p>
<p>Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, &#8220;Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.&#8221; Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.</p>
<p>Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. &#8220;Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan<br />
rumah kita!&#8221; Tetapi katanya, sambil tersenyum, &#8220;Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk<br />
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..&#8221;</p>
<p>Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. &#8220;Apakah itu sakit?&#8221; Aku menanyakannya. &#8220;Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi<br />
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itU tidak menghentikanku bekerja dan&#8230;&#8221; Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.</p>
<p>Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, &#8220;Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.&#8221;</p>
<p>Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.</p>
<p>Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, &#8220;Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya sepert ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?&#8221;</p>
<p>Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. &#8220;Pikirkan kakak ipar&#8211;ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?&#8221;</p>
<p>Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: &#8220;Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa membicarakan masa lalu?&#8221; Adikku menggenggam tanganku. Tahunitu, ia berusia 26 dan aku 29.</p>
<p>Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, &#8220;Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?&#8221; Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, &#8220;Kakakku.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. &#8220;Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya<br />
kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.&#8221;</p>
<p>Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.</p>
<p>Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, &#8220;Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.&#8221; Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.</p>
<p>Diterjemahkan dari : &#8220;I cried for my brother six times&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081127/aku-menangis-untuk-adik-ku-6-kali.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GAJI PAPA BERAPA ?</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081127/gaji-papa-berapa.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081127/gaji-papa-berapa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 07:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Dari milis tetangga
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di  Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya,  Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu  untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
&#8220;Kok, belum tidur ?&#8221;  sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 10pt;"><span><span>Dari milis tetangga</span></span></span></p>
<p>Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di  Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.</p>
<p>Tidak seperti biasanya,  Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu  untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.</p>
<p>&#8220;Kok, belum tidur ?&#8221;  sapa Andrew sambil mencium anaknya.</p>
<p>Biasanya Sarah memang sudah lelap  ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.</p>
<p>Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, &#8220;Aku  nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?&#8221; <span id="more-85"></span></p>
<p>&#8220;Lho  tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, enggak.  Pengen tahu aja&#8221; ucap Sarah singkat.</p>
<p>&#8220;Oke. Kamu boleh hitung sendiri.  Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan  rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih  lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?&#8221;</p>
<p>Sarah berlari  mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas  sepatu dan menyalakan televisi.</p>
<p>Ketika Andrew beranjak menuju kamar  untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. &#8220;Kalo satu hari Papa dibayar  Rp. 400..000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong&#8221;  katanya..</p>
<p>&#8220;Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur&#8221; perintah  Andrew.</p>
<p>Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti  pakaian, Sarah kembali bertanya, &#8220;Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak  ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam  begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi Papaâ..¦&#8221;</p>
<p>Kesabaran Andrew pun habis. &#8220;Papa bilang tidur !&#8221; hardiknya mengejutkan  Sarah.</p>
<p>Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.</p>
<p>Usai mandi,  Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak  kesayangannya itu belum tidur.</p>
<p>Sarah didapati sedang terisak-isak pelan  sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus  kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, &#8220;Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama  Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan,  besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih&#8221; jawab Andrew</p>
<p>&#8220;Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan  kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini&#8221;.</p>
<p>&#8220;lya, iya,  tapi buat apa ?&#8221; tanya Andrew lembut.</p>
<p>&#8220;Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku  mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo  waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka  tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar  Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit  tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa&#8221; kata Sarah polos</p>
<p>Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu  erat-erat dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata . Dia baru menyadari,  ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk &#8220;membeli&#8221;  kebahagiaan anaknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081127/gaji-papa-berapa.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aja sampek ditumpaki motor</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081120/aja-sampek-ditumpaki-motor.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081120/aja-sampek-ditumpaki-motor.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 19:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Advertising]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan Pribadi]]></category>

		<category><![CDATA[kendalikan nafsu]]></category>

		<category><![CDATA[nafsu]]></category>

		<category><![CDATA[pentingnya nafsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Kanggone manungsa, nefsu iku nduweni peranan sing penting. Kita kudu ngereh nefsu iki minangka dadi tunggangan marek maring allah sahinnga tumeka. Aja sampe suwalike malah di tunggangi nefsu. Ati, roh lan rasa dipaeka, dikunjara, dipeksa nuruti nefsu. Marek maring allah yen tanpa nunggang nefsu, bakal kangelan. Isa isa ngibadah 3000 tahun nembe isa tumeka. Nanging [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.pashnit.com/forum/attachment.php?s=bf2138a6a6f4542b86729aa64fd86960&amp;attachmentid=665&amp;stc=1&amp;d=1100902387" alt="" width="110" />Kanggone manungsa, nefsu iku nduweni peranan sing penting. Kita kudu ngereh nefsu iki minangka dadi tunggangan marek maring allah sahinnga tumeka. Aja sampe suwalike malah di tunggangi nefsu. Ati, roh lan rasa dipaeka, dikunjara, dipeksa nuruti nefsu. Marek maring allah yen tanpa nunggang nefsu, bakal kangelan. Isa isa ngibadah 3000 tahun nembe isa tumeka. Nanging yen isa nunggangi nefsune, sak tutup ajale dhewe-dhewe isa tumeka kanthi slamet.</p>
<p><span id="more-84"></span>Akeh sing ngarani nefsu yaiku muring2, neson, gumedhe, riya&#8217;, maksiat lan liya liyane. Nangin sak jane dudu iku thok. Iku mau nefsu sing kasar. Kaya dene seneng ibadah, seneng ngamal, taubat, apike budi pekerti, pinter, kamulyan lan sapanunggalane uga isa diarane nefsu yen isih diakoni.</p>
<p>Mula sejatine kita manungsa kari sadermo tandang. Amerga sejatine sing ngobahne, sing pinter, sing duwe, sing kuwat ya mung gusti allah.</p>
<p>Wujude nefsu ora liya ya ndonya iki. Lan hakekate ndonya ora liya ujude jiwa ragane dhewe-dhewe. Nunggang nefsu isa cepet marek marang allah, yen ditunggangi nefsu ya ra bisa nyandi-nyadi. Numpak motor isa cepet sampe tujuan, yen ditumpaki motor, isa-isa mati nek enggon.</p>
<p>Lha posisiku saiki,<br />
lagi numpak motor, apa malah ditumpaki motor ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081120/aja-sampek-ditumpaki-motor.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peluang dapet uang secara instan ( s/d 29 Nov 2008)</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081118/peluang-dapet-uang-secara-instan-sd-29-nov-2008.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081118/peluang-dapet-uang-secara-instan-sd-29-nov-2008.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 04:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado Gado]]></category>

		<category><![CDATA[blog uang]]></category>

		<category><![CDATA[dapat uang]]></category>

		<category><![CDATA[kaya instan]]></category>

		<category><![CDATA[kompetisi blog]]></category>

		<category><![CDATA[lomba blog]]></category>

		<category><![CDATA[uang instan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Setelah tulisanku kemaren mengenai kemungkinan kaya mendadak, ternyata hari ini baru saja di launch kesempatan dapet uang secara instan. Meski nggak membuat kaya raya seumur hidup, paling nggak bisa membuat kita kaya untuk 1 - 2 hari lah. Jadi.. siapa yang nggak pingin ambil bagian? Sah untuk siapa saja. Asal berdomisili di kota wilayah telkom [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.kompetisiblog.com/" target="_blank"><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.kompetisiblog.com/wp-content/uploads/2008/11/banner1.gif" alt="" width="150" /></a>Setelah tulisanku kemaren mengenai <a href="http://www.wahjoe.com/20081113/kaya-mendadak-apakah-mungkin.html">kemungkinan kaya mendadak</a>, ternyata hari ini baru saja di launch kesempatan dapet uang secara instan. Meski nggak membuat kaya raya seumur hidup, paling nggak bisa membuat kita kaya untuk 1 - 2 hari lah. Jadi.. siapa yang nggak pingin ambil bagian? Sah untuk siapa saja. Asal berdomisili di kota wilayah telkom madiun. Bagi memula maupun pemain lawas ada kemungkinan dapet lhoo.. Ada lagi.. kesempatan berakhir tanggal 29 November 2008<br />
<span id="more-83"></span></p>
<p>GImana caranya? Ya sesuai banner yang terpasang, ini adalah lomba blog. Lomba blog ini memperebutkan hadiah total <strong>jutaan rupiah</strong>.  Lomba blog yang mudah bagi siapapun. Tidak seperti kompetisi SEO yang butuh skill yang lumayan :). Semua bisa mendapat peluang untuk menang. Baik blog yang masih baru maupun blog yang sudah lama. Bahkan, meski kemungkinan kecil untuk menang, hal ini tetep menguntungkan bagi blog baru? Ya.. itung itung buat promosi blog baru lah.</p>
<p>Apalagi kalau kita lihat dari sumber perolehan point, 2 dari 3 sumber adalah dari web kompetisi itu. Bukan dari blog kita. Jadi meskipun blog kita nggak rame-rame banget, asalkan posting kita bikin orang pingin tau, kita bisa mendatangkan trafik dari web kompetisi blog ini, sekaligus dapet point.</p>
<p>Jadi, posting yang bikin orang penasaran di blog kita juga jurus jitu lho.. Karena semua posting baru kita akan termuat di web kompetisi blog ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081118/peluang-dapet-uang-secara-instan-sd-29-nov-2008.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kaya mendadak - apakah mungkin ?</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081113/kaya-mendadak-apakah-mungkin.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081113/kaya-mendadak-apakah-mungkin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 17:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado Gado]]></category>

		<category><![CDATA[Yang Online-Online]]></category>

		<category><![CDATA[cari duit]]></category>

		<category><![CDATA[cari uang]]></category>

		<category><![CDATA[kaya mendadak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang bilang uang bukanlah segala-galanya. Namun harus kita akui hampir segala hal di dunia ini perlu uang. Mulai dari bersenang - senang, belanja, makan, bahkan sampai dengan urusan ibada seperlu haji dan Qurban. Saking pentingnya uang, banyak orang yang mencari jalan untuk kaya mendadak. Apakan sudah anda temukan? Apakah mungkin?  Semua hal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://thatcollegekid.com/wp-content/uploads/2008/01/money.jpg" alt="Cari Uang" width="170" />Banyak yang bilang uang bukanlah segala-galanya. Namun harus kita akui hampir segala hal di dunia ini perlu uang. Mulai dari bersenang - senang, belanja, makan, bahkan sampai dengan urusan ibada seperlu haji dan Qurban. Saking pentingnya uang, banyak orang yang mencari jalan untuk kaya mendadak. Apakan sudah anda temukan? Apakah mungkin? <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Semua hal di dunia ini ada kemungkinan kawan.</p>
<p><span id="more-82"></span>Jalan yang paling mudah adalah keberuntungan. Nunggu dapat hadiah. Ngenteni nyandung emas nek ndalan. Itu jalan yang hampir tidak perlu effort yang besar kecuali meluangkan waktu untuk menunggu.</p>
<p>Di internet sering kita lihat banyak orang nyari cara untuk kaya mendadak. Wajar aja sih. Lama kelamaan pasti semua akan sadar bahwa segala sesuai perlu adanya usaha dan keseriusan. Kalau sekarang kita dengar si A udah bisa dapet uang banyak dari internet. Pasti akan banyak yang ngikut cara2 usaha si A, dan berharap bisa cepat mendapatkan uang dari internet juga.</p>
<p>Padahal kalau kita mau tahu, hampir semua dari mereka yang sukses melakukan usaha yang tidak mudah. Mulai dari belajar, mencoba, dan belajar lagi. Dan itu tidak instan langsung jadi master. So, jadi, sehingga, kawan2 semua yang ingin mulai usaha mencari uang melalui internet yang sabar ya&#8230;</p>
<p>Hasil akhir memang penting,<br />
Tapi menikmati suatu proses juga nggak kalah pentingnya lho..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081113/kaya-mendadak-apakah-mungkin.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar SEO tidak ada kata pensiun</title>
		<link>http://www.wahjoe.com/20081103/belajar-seo-tidak-ada-kata-pensiun.html</link>
		<comments>http://www.wahjoe.com/20081103/belajar-seo-tidak-ada-kata-pensiun.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 02:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Wahyu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Optimalisasi Web]]></category>

		<category><![CDATA[Web Programing]]></category>

		<category><![CDATA[Yang Online-Online]]></category>

		<category><![CDATA[belajar seo]]></category>

		<category><![CDATA[seo bagus]]></category>

		<category><![CDATA[teknik seo]]></category>

		<category><![CDATA[tips seo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahjoe.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Secara nggak sengaja kemaren tanggal 2 November aku ngikuti seminar pengenalan blog yang diselenggarakan di gedung telkom madiun.  Kok nggak sengaja? La iya. Kemaren tuh nggak ikutan daftar, tapi karena nasib baik saja bisa ikut ndengerin isi semunar. Pembicara seminar itu adalah para jawara blog dari madiun city. Mas Bayu, Mas Iwan dan mas Wawan.
Meski target [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara nggak sengaja kemaren tanggal 2 November aku ngikuti seminar pengenalan blog yang diselenggarakan di gedung telkom madiun.  Kok nggak sengaja? La iya. Kemaren tuh nggak ikutan daftar, tapi karena nasib baik saja bisa ikut ndengerin isi semunar. Pembicara seminar itu adalah para jawara blog dari madiun city. <a title="Belajar SEO" href="http://www.bayumukti.com/" target="_blank">Mas Bayu</a>, <a title="Rystiono" href="http://iwan-ae.info/" target="_blank">Mas Iwan </a>dan <a title="wawan wae" href="http://wawanwae.blogspot.com/" target="_blank">mas Wawan</a>.</p>
<p>Meski target utama seminar itu adalah siswa smu dan mahasiswa, tapi ada saja yang bisa aku pelajari dari sana. Mulai dari pengenalan blog, teknik seo dan cara mencari penghasilan dari blog. Pembahasan dibuat seglobal mungkin. Kayaknya emang disengaja nggak terlalu detail, untuk mancing peserta pelatihan. Ya, kabarnya emang abis seminar akan ada pelatihan soal blog.<span id="more-81"></span></p>
<p>Dari pembahasan yang global itu aku tambah sadar aja kalo banyak yang masih perlu dipelajari soal internet. Kalo saat ini yang sangat aku perlukan masalah belajar SEO. Paling nggak itu bisa mendukung bisnis yang selama ini aku geluti. <img src='http://www.wahjoe.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Aku bukan pemain aktif blog sih, tapi blog banyak ngasih masukan untuk produk - produkku.</p>
<p>Abis dari seminar blog itu, aku ada ide ngrubah2 script yang sudah ada. Tentunya untuk memperbaiki system SEO nya. Intinya, belum ada kata pensiun untuk <strong>belajar SEO</strong>, tapi juga tidak ada kata terlambat untuk belajar. Meski banyak yang sudah jago-jago, nggak ada salahnya kita mulai dari awal.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim.&#8221; (Hadits Shahih Ibnu Maajah dari Anas bin Maalik rodhiyallahu anhu)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahjoe.com/20081103/belajar-seo-tidak-ada-kata-pensiun.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
