Mau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. Dan dalam melakukan interaksi ada saja hal yang membuat kita sakit hati, tidak senang, tidak nyaman ato sejenisnya. Dan yang parah, sepertinya malah kita yang sering membuat orang lain tidak nyaman. Minta maaf? boleh, dan itu memang perlu. Kalo harus memaafkan… nggak usah la yau
[More]
Terkadang kita beranggapan ada banyak pilihan dalam hidup. Ingin kaya ato miskin. Ingin pandai atau bodoh, itu adalah sebuah pilihan. Tentu saja apapun pilihan kita ada konsekuensi yang akan kita jalani. Misalnya kita memilih untuk menjadi orang kaya, maka konsekuensi logisnya kita harus giat bekerja cari duit. Demikian pula kalo kita ingin pinter, ingin ganteng, cantik dll. Tapi benarkah kita mempunyai pilihan dalam hidup ini? [More]
Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk memegang dan menggenggam tangan kita.
Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya.Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, “Putramu disini.” [More]
Dari tetanggak sebelah
Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif. [More]
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. [More]
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” [More]
Dari milis tetangga
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?” [More]
Kanggone manungsa, nefsu iku nduweni peranan sing penting. Kita kudu ngereh nefsu iki minangka dadi tunggangan marek maring allah sahinnga tumeka. Aja sampe suwalike malah di tunggangi nefsu. Ati, roh lan rasa dipaeka, dikunjara, dipeksa nuruti nefsu. Marek maring allah yen tanpa nunggang nefsu, bakal kangelan. Isa isa ngibadah 3000 tahun nembe isa tumeka. Nanging yen isa nunggangi nefsune, sak tutup ajale dhewe-dhewe isa tumeka kanthi slamet.
[More]
Sabtu sore 1 November 2008 aku perjalanan pulang ke kediri. Seperti biasa aku naik bis jurusan surabaya turun di kertosono, dan ganti bis jurusan tulung agung. Nah, di bis tulung agung inilah ditampakkan lagi pemandangan yang lama nggak aku lihat. Kondektur bisa perempuan. Dulu sih sering banget lihat antara blitar - malang. Waktu lihat ibu-ibu bekerja jadi kondektur, nggak pasti perasaan apa yang dateng. Kadang biasa saja, kadang seneng melihat seorang ibu berjuang untuk keluarganya.
Nah perasaan yang didatangkan waktu itu adalah perasaan haru. Sang ibu (kondektur) seperti belum terbiasa menangani pekerjaannya. Beliau hanya diam berjalan pelan di sekitar penumpang sekiranya ada yang belum bayar. Awalnya aku kira beliaunya masih sibuk dan belum niat narik karcis untuk penumpang. Tapi hampir sampe kediri aku belum juga diminta bayar karcis. Nah, mulai itu aku sadar kalo ibu itu hanya diam dan berjalan disepanjang bis. Ya, beliau pasti menguat-nguatkan diri untuk keluarganya. Walah… kumat penyakit lawas, rasane luh iki ndrodos ra bisa dibendung. Pikiranku jadi ingat kemana mana. [More]
Terus terang wae, antarane wong wadon kabeh sing dak kenal pancen sampyan sing paling ayu. Sampyan sing bisa nggawe aku ngguyu, uga bisa nggawe cemburu. Nadyan kabeh kanca padha ngadohi, rasane wis cukup yen sampyan gelem cedhak neng sandingku. Ora bakal dak selak’i, bungah susahe ati iki kaya-kaya sampyan sing nguwasani.
Namun, sepertinya aku harus rela kau serahkan cintamu kepadanya. [More]