Berusaha Menjadi Sukses

Sukses saat hidup, saat mati, dan saat dihidupkan kembali.


Kasih ibu sepanjang jalan

by Sigit Wahyu on November 2, 2008 • Kategori: Renungan Pribadi

Jasa IbuSabtu sore 1 November 2008 aku perjalanan pulang ke kediri. Seperti biasa aku naik bis jurusan surabaya turun di kertosono, dan ganti bis jurusan tulung agung. Nah, di bis tulung agung inilah ditampakkan lagi pemandangan yang lama nggak aku lihat. Kondektur bisa perempuan. Dulu sih sering banget lihat antara blitar - malang. Waktu lihat ibu-ibu bekerja jadi kondektur, nggak pasti perasaan apa yang dateng. Kadang biasa saja, kadang seneng melihat seorang ibu berjuang untuk keluarganya.

Nah perasaan yang didatangkan waktu itu adalah perasaan haru. Sang ibu (kondektur) seperti belum terbiasa menangani pekerjaannya. Beliau hanya diam berjalan pelan di sekitar penumpang sekiranya ada yang belum bayar. Awalnya aku kira beliaunya masih sibuk dan belum niat narik karcis untuk penumpang. Tapi hampir sampe kediri aku belum juga diminta bayar karcis. Nah, mulai itu aku sadar kalo ibu itu hanya diam dan berjalan disepanjang bis. Ya, beliau pasti menguat-nguatkan diri untuk keluarganya. Walah… kumat penyakit lawas, rasane luh iki ndrodos ra bisa dibendung. Pikiranku jadi ingat kemana mana.

Tentu saja pertama yang terlintas adalah ibunda ku tersayang. Bagaimana beliau ( bundaku ) berjuang untuk anak-anaknya. Berjuang secara lahir dan batin, mulai menghabiskan harta dan mengesampingkan perasaan. Kalo melihat perjuangan beliau, wah, rasanya aku nggak akan sanggup untuk berbuat yang sama. Terlalu berat. Tentunya nggak bisa aku ceritakan disini. Biar tersimpan dan menunggu balasan terbaik dari allah. Meskipun emas sebesar dunia ini aku persembahkan untukmu ibu, tidak akan mampun membalas jasamu meskipun setetes.

Mengingatkan untuk rekan-rekan bagaimana perintah rasul allah tentang ibu kita.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621)

Jasa ibu terlalu besar untuk dapat kita membalasnya. Bahkan kita gendong beliau seumur hidup kemanapun beliau ingin pergi, tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa-jasanya.

Said bin Abu Burdah berkata, “saya mendengar ayahku bercerita, bahwa Ibnu Umar menyaksikan seorang pria Yaman sedang thawaf di Baitullah seraya menggendong ibunya. Ia mengatakan, “sungguh aku menjadi untanya (ibuku) yang setia. Meski ia takut menaiki, aku tidak.” Kemudian ia melanjutkan, “Wahai Ibn Umar, sebagaimana engkau lihat (dirinya sedang berbakti kepada ibunya dengan cara itu), apakah aku sudah dapat dikatakan mencukupi (berbakti dengan cara ini)? Ibn Umar menjawab, “belum, dan masih belum cukup bila ditambah dengan satu beban lagi…” Menurut Syaikh al-Albani Hadits ini shahih.

Wahai para ibu, wahai para calon ibu,
Jangan berikan alasan sedikitpun pada kami untuk tidak menghormatimu.

Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Post Comment