Berusaha Menjadi Sukses

Sukses saat hidup, saat mati, dan saat dihidupkan kembali.


Allah mencatat dan menyaksikan segala kejadian

by Sigit Wahyu on September 17, 2008 • Kategori: Renungan Pribadi

*** Lebih susah menjaga kehormatan saat kita sendirian ***
Begitulah ungkapan yang singkat dan tepat untuk kita semua. Banyak dari kita yang terbiasa berbuat baik dan menghindari segala sesuatu yang dilarang saat sedang bersama orang lain. Bahkan kita bisa menjalankan yang sunnah dan menjauhi yang mubah seoalah-olah sudah jadi kebiasaan.

Tapi bagaimana saat kita sendiri? masih bisa menjaga semua itu? Ya.. berbahagialah bagi kita yang memang bisa mempertahankan kebiasaan baik saat sendiri. Bagi yang belum, berarti masih diberi ladang amal untuk berjuang memperbaiki diri :) Misalnya, didepan umum saat makan/minum kita berusaha keras untuk mencari tempat duduk, masuk masjid mulai kaki kanan. Mulai segala sesuatu dengan bismillah. Selayaknya kita berusaha mempertahankan hal itu meskipun dalam keadaan sendirian.

Ingat kan kisah ini ?

Ketika Umar melihat seorang anak gembala bersahaja dengan pakaian sangat sederhana sedang menggembalakan kambing yang amat banyak milik majikannya, beliau bertanya: “Nak, bolehkah aku membeli kambing yang sedang kau gembalakan itu satu ekor saja ? Si anak gembala menjawab: “Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku. Aku tidak boleh menjualnya”. Umar bin Khatab membujuk: “Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?” Dijawab oleh anak tersebut dengan mantab: “Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya.” Umar bin Khatab terus mencoba membujuk: “Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk membeli baju atau roti.” Anak gembala tetap tidak terbujuk dan mengabaikan uang yang disodorkan oleh Umar.

Umar bin Khatab dengan nada yang ditinggikan berkata: “Mengapa kamu ini bodoh benar! Kambing itu amat banyak. Majikan kamu tidak tahu jumlahnya. Kalau kamu jual satu, majikan kamu tidak akan tahu. Di sini juga tidak ada orang lain. Hanya ada aku dengan kamu. Tidak ada orang lain yang tahu.” Anak gembala miskin itu dengan tetap tegar menjawab: “Memang tidak ada orang disekitar sini. Tapi dimana Allah ? Allah Maha Tahu, Allah menyaksian semua yang terjadi”.

Mendengar jawaban anak gembala itu, Umar bin Khatab, Amirul Mu’minin yang gagah perkasa tersebut menangis. Dan mendekap anak gembala itu dengan penuh kasih sayang.

Atau mungkin kita ingat tentang Umar bin Abdul Aziz. Beliau menjadi pemimpin orang mukmin tidak terlalu lama namun bisa membuat perubahan yang luar biasa. Beliau adalah salah satu contoh keturunan yang lahir dari keyakinan terhadap mengadanya allah dalam setiap kejadian

Silsilah keturunan Umar bin Abdul Aziz dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

Pada suatu malam saat Umar bin Khatab melakukan kegiatannya meronda di sekitar daerah kekuasaannya, beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari

Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini

Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.

Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.

Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.

Ketika pulang ke rumah, beliau kemudian menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu. Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.

Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.

Ya, begitulah hasil dari sebuah keyakinan. Harus kita yakini tidak ada yang luput dari pandangan allah.

Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS 49:18)

Post Comment