Berusaha Menjadi Sukses

Sukses saat hidup, saat mati, dan saat dihidupkan kembali.


Susu Formula Mana Yang Tercemar?

by Sigit Wahyu on March 13, 2008 • Kategori: Perawatan Bayi

Dr Widodo Judarwanto SpA

Saat ini yang ramai dibicarakan masyarakat adalah keinginan tahu merek susu bubuk formula manakah yang tercemar. Kekawatiran ini timbul karena temuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Peneliti, BPOM (Balai Pengawasan Obat dan makanan), Departemen Kesehatan didesak untuk mengumumkan susu apa saja yang tercemar. Tetapi institusi tersebut dengan berbagai dalih pasti tidak akan mengumumkan merk susu apa yang tercemar. Benarkah peneliti dari IPB tersebut atau merek susu apa saja yang tercemar?

Benarkah temuan ilmiah tersebut ?

Sebenarnya temuan peneliti IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut, mungkin tidak terlalu mengejutkan. Karena, USFDA (United States Food and Drug Administration) telah melansir sebuah penelitian prevalensi kontaminasi susu di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk formula didapatkan 20 (14%) kultur positif E. sakazakii. Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa negara sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU (Neonatal Intensive care Unit), USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi bakteri itu. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya.

Temuan ilmiah berharga ini ternyata disikapi oleh sikap tidak etis dan tidak profesional oleh menteri kesehatan, dr Siti Fadillah Supari SpJP. Temuan itu dianggap ada maksud tertentu karena disponsori oleh pihak ke tiga. Bahkan yang lebih runyam lagi dikatakan ibu menteri bahwa ini adalah “move” politik untuk menggoyang SBY. Pada kesempatan lain di media televisi sang menteri menampik bahwa yang terkena infeksi otak hanya tikus, jangan samakan manusia dengan tikus. Selanjutnya pejabat departemen kesehatan dan BPOM dengan gagahnya mengatakan bahwa susu bayi aman untuk dikonsumsi.

Beberapa perilaku tersebut tampaknya harus disikapi dengan cermat. Bagaimanapun juga sebagai sesama insan ilmiah pendapat ilmiah peneliti lain harus dihormati, Harus disadari bahwa respon dari pemerintah demikian bertentangan karena hal ini menyangkut masalah sensitif dapat dimaklumi. Kalau secara ilmiah peneliti tersebut benar dan merek susu tersebut diumumkan maka akibat yang terjadi sangat kompleks dan runyam. Bayangkan nantinya kalau ada merek susu yang diumumkan maka begitu banyak pabrik susu terancam gulung tikar. Belum lagi diikuti nasib karyawan yang juga tergantung dengan hal itu. Tentunya masalah politik juga akan terimbas oleh masalah masalah ini. Sehingga masyarakat harus memaklumi tindakan institusi pemerintah tersebut.

Pola pikir dalam memandang permasalahan ini tampaknya sedikit bergeser dan tidak fokus dalam esensi yang terpenting. Yang menjadi masalah dalam kasus utama mungkin bukan merek susu yang tercemar. Tetapi pemerintah harus berani mengakui bahwa memang produk susu komersial memang bukan produk yang steril. Hal ini juga pernah dialami oleh negara maju seperti Kanada, Inggris, Amerika dan negara lainnya. Bila salah dalam menyikapi masalah ini berakibat kesalahan dalam memberi rekomendasi. Sehingga rekomendasi yang keluar adalah susu bubuk formula aman. Padahal WHO sudah menetapkan bahwa susu bubuk formula komersial memang tidak steril. Nantinya rekomendasi tersebut pada akhirnya membawa dampak yang buruk dan berimplikasi yang luas, baik implikasi hukum, etika kedokteran, sosial, dan medis. Bila pemerintah mengakui bahwa memang susu komersial bukan produk steril maka hal ini lebih beresiko lebih ringan, karena masyarakat akan lebih waspada dalam pencegahannya. Rekomendasi ini juga merupakan hal yang wajar karena di beberapa negara majupun hal ini sering terjadi.

Enterobacter sakazakii

Gejala reaksi simpang yang dapat ditimbulkan oleh susu formula bayi disebabkan oleh berbagai komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami reaksi gangguan pada tubuh karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya.

E. sakazakii pertamakali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa Negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia tetapi resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar di laporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika dan Kanada. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg) .

E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. Organisma ini dikenal sebagai “yellow pigmented Enterobacter cloacae“. Pada tahun 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan dengan hibridasi DNA menunjukkan E sakazakii 53–54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taksonomi dengan menggunakan cara lebih canggih didapatkan klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogenitas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.

Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , and necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini.

Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhi 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula.

Rekomendasi aman

Melihat beberapa fakta ilmiah tersebut tampaknya berbagai pihak harus arif dan bijak dalam menyikapi kekawatiran ini. Pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan dan BPOM harus menyikapi secara profesional dengan melakukan kajian ilmiah mendalam baik secara biologis, epidemiologis, dan pengalaman ilmiah berbasis bukti (evidence base medicine). Jangan terburu-buru mengemukakan rekomendasi sebelum kajian tersebut secara ilmiah telah terbukti aman.

Masyarakat awam tentunya juga jangan terlarut oleh psikologi masa yang sedang heboh. Cermati benar informasi yang diterima dan fakta yang benar. Sebelum ada rekomendasi resmi yang berbasis ilmiah dari pemerintah sebaiknya sementara masyarakat menganut rekomendasi WHO, USFDA dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.
Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA tetapi tidak terjadi kasus luar biasa. Karena mungkin sebagian besar adalah kuman non patogen atau yang tidak berbahaya. Individu yang beresiko terkena adalah bayi berat badan lahir rendah, prematur dan manusia dengan daya tahan tubuh yang rendah lainnya. Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajian susu bubuk formula untuk bayi dengan baik dan benar.
Masyarakat tidak perlu sibuk mencari produk susu mana yang tercemar. Berdasarkan rekomendasi WHO produk susu komersial bubuk formula memang tidak steril, sehingga semua susu beresiko tercemar. Tetapi tidak perlu kawatir, hal ini dapat disikapi dengan dengan pemanasan air di atas 70 oC, tetapi bukan dengan air mendidih. Sedangkan di bagian perawatan bayi NICU, direkomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur dan berat badan lahir rendah yang rentan terjadi infeksi.
Rekomendasi lain diantaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setiap kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan “hang time” atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningkatkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu

Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan dan BPOM harus bertindak cepat dan profesional sebelum terjadi gejolak kegelisahan yang hebat dan korban yang memakan jiwa di masyarakat. Sejauh ini belum ada rekomendasi resmi yang disampaikan oleh instansi yang berwenang dalam menyikapi masalah ini. Sebaiknya nantinya institusi tersebut mengeluarkan rekomendasi resmi berdasarkan kajian ilmiah yang dalam dan cermat. Jangan sampai sikap terburu-buru mengakibatkan kekeliruan dalam mengeluarkan rekomendasi. Rekomendasi yang tidak tepat akan mempertaruhkan jutaan nyawa anak Indonesia. Sehingga tidak ada salahnya, masyarakat sementara tetap mengacu rekomendasi institusi kesehatan internasional bahwa susu susu bubuk formula bayi memang bukanlah produk komersial yang steril. Masyarakat tidak perlu informasi mencari susu mana yang tercemar, karena semua susu berpotensi tercemar.

Dikutip dari : http://wido25.blogster.com/

Post Comment