Masih ingat enggak sih dulu ketika mencari-cari pekerjaan setelah lulus sekolah? Begitu mendapat pekerjaan, apa sih dulu yang terpikir oleh kita?
Mungkin ada yang menerima gaji pertama sebagai suatu kebanggaan. Tetapi ada yang biasa-biasa dan langsung menyusun “strategi” untuk mencapai jenjang karir di atasnya. Pada saat ini Anda berada pada kelompok Melisa : Muda, Ambisius dan rela bekerja 12 jam sehari.
Dari tahun ke tahun, 2 tahun, 4 tahun, 6 tahun dst. Naik sedikit ke jenjang di atasnya. Beberapa tahun berikutnya, Anda masih terus berharap bisa naik jenjang. Anda masih ambisius dan masih “rela” bekerja 12 jam sehari. Ada
sapaan dari si bos menjadi sebuah angin segar untuk tetap bertahan dan menunggu naik jenjang. Ditambah lagi sudah hadir si kecil yang berarti ada tuntutan kebutuhan finansial tambahan. Ditambah lagi, SARAN orang tua untuk
“bekerja seumur hidup”.
Sampai saat ini Anda masih menunggu ada kenaikan jenjang karir Anda. Tetapi sampai umur 40 Anda juga masih menunggu, padahal sudah mati-matian bekerja keras menjadi MELISA, bekerja 12 jam sehari (ambisi mulai memudar, dan tidak muda lagi).
Tahun-tahun berikutnya Anda mulai kecewa. Tetapi kali ini umur Anda sudah 45 tahun. Sementara jabatan yang Anda idamkan selama ini hanya tersedia buat mereka yang berumur di bawah 40 tahun. Ketika kesempatan itu ada, Anda tidak bisa meraihnya karena bukan untuk Anda. Anda mulai lebih kecewa lagi….. meski masih bersedia bekerja 12 jam sehari karena ada tuntutan finansial.
Akhirnya masa pensiun Anda tiba, padahal kesempatan kedua untuk jabatan idaman Anda kembali hadir. Tetapi Anda sudah tidak bisa lagi mencapainya karena Anda sudah “Expired”
Ya, Anda terjebak dalam sistem karir perusahaan konvensional.
Post Comment