Berusaha Menjadi Sukses

Sukses saat hidup, saat mati, dan saat dihidupkan kembali.


Menyediakan Kemaafan

by Sigit Wahyu on February 10, 2008 • Kategori: Renungan Pribadi

Hubungan antar kita dengan manusia terjadi pada waktu kita berinteraksi sosial. Pada aktifitas ini seringkali terjadi pengotoran-pengotoran hati maka kita harus mempersiapkan diri agar dalam berhubungan jangan sampai ada pengotoran pengotoran hati. Oleh karenanya perlu ada persiapan, seperti diungkapkan dalam Al Quran Al Araf 199 “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

Karena perintah maaf datang dari Allah maka kita harus berusaha menuruti perintah tersebut. Pemaaf kadang-kadang pengertiannya diartikan secara sederhana, karenanya pengamalannya menjadi sederhana pula sehingga pada waktu kita harus menjadi pemaaf maka kita tidak menemukan kemanisan-kemanisan hidup.

Sebenarnya kata Pemaaf kandungan artinya adalah
1. Di hati kita haruslah disediakan kemaafan Jika tidak ada kemaafan di hati kita maka sifat pemaaf ini hanya muncul kadang-kadang saja. Untuk bisa memunculkan sikap pemaaf dan selalu memaafkan orang lain maka untuk bisa terwujud seperti itu dihati ini harus disediakan kemaafan
2. Kesalahan orang lain terhadap diri kita dianggap tidak pernah berbuat salah oleh hati kita

Jika seandainya no. 2 tersebut tidak terjadi maka akan muncul dihati kita bahwa orang tersebut dianggap pernah berbuat salah tapi kita memaafkan. Hal ini akan mengotorkan hati kita karena kesan yang tersimpan dalam hati kita akan muncul dan bisa menghalangi kita untuk berbuat baik.

Adanya kesiapan kemaafan dihati kita merupakan kemuliaan disi Allah. Sebab salah satu cara mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu melalui sifat pemaaf. Jika tidak mempunyai kemaafan maka yang akan bereaksi dalam diri kita adalah sifat kemanusiaan saja. Kita merasa rugi untuk memaafkan orang lain karena hal ini menyangkut harga diri kita dan seringkali timbul kesengsaraan dalam hati kita. Kemanusiaan kita sering tidak menerima untuk memaafkan kesalahan orang lain dan inginnya membalas dan protes atas perlakuan orang lain tersebut. Jika hal itu terjadi maka hati kita akan kotor dan jika kita berusaha memaafkan maka hati kita akan sulit. Untuk mudah memaafkan haruslah disediakan kemaafan terlebih dahulu di hati kita sehingga reaksi kemanusiaan kita tidak akan beraksi pertama kali tapi yang bereaksi adalah kemaafan kita.

Tanya-Jawab

Bagaimana jika ada orang yang berbuat salah dan kita terpaksa memarahi orang tsb?
Memarahi adalah reaksi kemanusiaan sedangkan memaafkan adalah reaksi keTuhanan. Untuk memperbaiki orang haruslah ada kesucian di hati kita sehingga jangan sampai reaksi kemanusiaan menipu pikiran kita dan jika itu tidak berhenti makaakan berwarna kemarahan bukan dengan kebijaksanaan. Oleh karenanya hati kita harus disucikan dulu dan kita harus beranggapan bahwa orang tsb tidak pernah berbuat salah

Bagaimana dengan dakwah yang bersifat emosional?
Dakwah yang berwarna kemanusiaan dan tidak berwarna ketuhanan tidak akan menyentuh emosi bagi yang mendengarkan

Mana yang lebih utama Habluminallah atau Habluminannas?
Tergantung situasi dan kondisi ketika kita menghadapi persoalan

Bagaimana kita bisa tahu apakah reaksi kita yang muncul bersifat keTuhanan atau bersifat kemanusiaan ketika kita
menghadapi persoalan?
Tergantung pada reaksi pertama kita ketika menghadapi persoalan tersebut. Reaksi pertama akan muncul secara bersamaan antara reaksi keTuhanan berupa kemaafan dan kemanusiaan. Jika reaksi pertama yang lebih kuat muncul adalah reaksi kemanusiaan maka reaksi kemanusiaan kita lebih besar dari reaksi keTuhanan namun jika respon keTuhanan yang muncul maka reaksi kemanusiaan lebih kecil. Namun untuk mengendalikan reaksikemanusiaan adalah sangat berat. Kebanyakan 99% reaksi kemanusiaan lebih sering muncul sehingga kadang kadang reaksi keTuhanan kita menjadi terjepit dan tidak nampak karena tidak adanya disediaan kemaafan dihati kita. 50% orang yang sengsara karena dihatinya tidak ada kesediaan kemaafan dan kesengsaraan ini tidak hilang dalam 1 atau 2 jam dan terus tersimpan dalam hati

Bagaimana caranya memaafkan diri kita sendiri ketika kita berbuat kesalahan?
Jika kita merasa sulit memaafkan diri sendiri jika kita berbuat salah artinya dalam kesalahan terdapat kemuliaan. Dimana ada kesalahan kita akan merasa hina dihadapan Allah dan kita merasa bersalah. Oleh karenanya kita pada akhirnya memohon maaf dan menggantungkan pertolongan Allah semata. Maka jika kita bersikap demikian kita akan mulia dalam sebab kesalahan.

Bagaimana caranya untuk menumbuhkan reaksi ketuhanan lebih dominan? Apakah kita harus memperbanyak zikir atau
puasa dsb?
Perlu latihan yang terus menerus dan diperlukan persiapan dalam diri kita untuk menumbuhkan reaksi keTuhanan. Ibadah puasa, dzikir dsb hanyalah pendukung yang diperlukan adalah mempersiapkan diri kita untuk menumbuhkan reaksi ketuhanan

Bagaimana caranya kita berlatih menyiapkan kesediaan kemaafan dalam diri kita?
Disetiap memulai aktifitas hendaknya kita selalu meniatkan kemaafan didalam diri kita sehingga ada kesediaan kemaafan. Cara agar kesiapan kemaafan banyak misalnya setiap hendak berangkat ke kantor disediakan kemaafan misalnya kalau saya ditabarak/dimarahi orang saya akan memaafkan orang tersebut.

Bagaimana perbedaan memaafkan dan membiarkan perbuatan zhalim?
Membedakan antara memaafkan dan memmbiarkan perbuatan zhalim caranya adalah dengan menghisab diri kita. Tasawuf fokusnya adalah menjaga kesuciaan hati kemudian bagaimana caranya kita berdakwah memerangi perbuatan zhalim dengan landasan kesucian hati. Jika kita merasa suci dan orang lain dholim dan membenci orang tersebut bagaimana kita mau menasehati dengan bijaksana

Bagaimana dengan istilah mengorbankan perasaan?
Tidak ada istilah mengorbankan perasaan. Menyediakan kemaafan dan bersifat pemaaf bukan dalam posisi rendah tapi mulia disisi Allah. Jika kita sudah menyediakan kemaafan tidak ada istilah pengorbanan perasaan karena jika reaksi kemanusiaan yang muncul dan tidak bisa menerima maka memerlukan pengorbanan perasaan maka berarti tidak ada kemaafan

Apakah boleh kita tidak membenci orang lain tapi membenci prilakunya?
Kita tidak boleh membenci orang tapi kita boleh membenci prilakunya yang berwarna kemaksiatan

Post Comment