Artikel diambil dari http://www.diary-kenzie.com/
Co-sleeping adalah istilah yang digunakan bagi ibu dan bayi yang tidur bersebelahan dalam satu tempat tidur. Bagi sebagian masyarakat kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun temurun. Namun, seiring perkembangan jaman, muncullah sistem pengasuhan bayi yang diadaptasi dari barat dimana bayi dipisahkan dalam satu ruangan tersendiri yang dilengkapi alat perekam suara untuk mendeteksi aktifitas bayi atau diletakkan dalam satu boks bayi sendiri tapi masih dalam satu ruangan dengan ibunya.
Sebenarnya apa sih keuntungan dan kerugian dari co-sleeping ini. Setelah Ummi browsing kesana-kesini akhirnya menemukan juga beberapa artikel yang membahasnya. Keuntungan co-sleeping antara lain:
- membantu menjaga stabilitas suhu bayi. Temuan studi Mc Kenna (1986) menyimpulkan bahwa seorang bayi yang sejak lahir diletakkan berjauhan dengan perut ibunya mengalami penurunan suhu tubuh hingga 1 derajat celcius. Kondisi ini pun dapat diamati pada bayi yang berada di dalam inkubator dimana suhunya telah diatur sedemikian rupa mendekati suhu tubuh sang ibu.
- Kontak kulit dengan orang tua terbukti berpengaruh positif terhadap bayi — prematur ataupun normal. Melalui sentuhan kulit tersebut, bayi biasanya akan memiliki pola nafas lebih teratur, menggunakan energi lebih efisien, memiliki pola tumbuh-kembang lebih cepat serta mengalami lebih sedikit stress. (Stewart dan Stewart 1991, Field 1995).
- membantu terbentuknya rasa percaya diri dan keberanian bagi bayi ketika beranjak dewasa nanti
- menjaga kedekatan ibu dan bayi, karena ketika membuka mata wajah sang ibu yang dilihat bayi
- mampu mencegah terjadinya SIDS(suddent infath death syndrom) berdasarkan penelitian dari negara Jepang dan Hongkong.
- memudahkan ibu dan bayi sewaktu menyusui di malam hari
- hemat, karena tidak harus pusing membeli boks bayi(harganya kan mahal-mahal)
Kerugian Co-sleeping, mmmhhh kayaknya nggak ada, eh ada, yang ini berdasarkan penelitian Ummi, yaitu harus siap-siap kena pipis di malam hari.
hehehhe. Namun, tentu saja untuk melaksanakan Co-sleeping ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
- Pilihlah kasur yang tidak terlalu empuk. Kasur yang terlalu empuk berbahaya bagi bayi, terutama ketika bayi sudah bisa miring/tengkurap karena bisa terjadi SIDS karena pernafasan bayi terhalang kasur.
- Pastikan sprei dalam keadaan lurus dan terikat erat pada ujung-ujungnya sehingga tidak ada bagian terlipat yang bisa menghalangi jalan nafas bayi.
- Usahakan jangan ada balita yang tidur di samping bayi
- jangan tinggalkan bayi tidur dengan kepala tertutup
- jauhkan barang-barang berbahaya dari tempat tidur
Pengalaman Kenzie sendiri, saat ini Ummi masih menjalankan program co-sleeping. Dulu sewaktu adek belum lahir, Ummi sudah bingung ingin membuatkan kamar dan membelikan boks bayi buat adek. Namun, karena kelahirannya mendadak jadinya belum sempat beli. Sewaktu adek dibawa ke rumah nenek di Ngawi, di sana sudah dibelikan boks bayi oleh nenek. Boks bayi ini ada rodanya jadi bisa dibawa kemana-mana. kalau malam diletakkan di kamar, pagi harinya digeser ke ruang tamu dekat jendela dimana di situ banyak sinar matahari dan langsung bisa melihat pemandangan luar. Kalau pas adek dijemur boksnya juga bisa dibawa keluar.
Lama kelamaan akhirnya adek tidur dalam satu kasur dengan Ummi(kalau nggak salah sebeum adek berusia sebulan). Pas menyusui di malam hari Ummi nggak harus turun dari tempat tidur lagi, tinggal bangun, geser perlak adek, ganti popok(biasanya pas bangun malam hari adek ngompol duluan), trus menyusui. Capeknya nih, Ummi nggak bisa bersandar waktu menyusui karena jahitannya masih sakit dan kalau bergeser2 terasa banget sakitnya. Kalau dulu sewaktu masih tidur terpisah, posisi menyusui Ummi di kursi jadi bisa nyaman. Akhirnya sampai tinggal di Madiun ini co-sleeping masih menjadi pilihan.
Dengan bertambahnya usia bayi, berkembang pula kemampuannya, sekarang kasur dibawa ke bawah(pesan dari orang2 tua) karena berbahaya sekali jika bayi sudah bisa merangkak tidur di atas. Sekarang aja ketika adek belum bisa merangkak tapi sudah suka berguling2 ditinggal di kasur sebentar saja sudah berguling di lantai.
Jadi, buat ibu-ibu atau calon ibu-ibu, gimana ? masih mau disibukkan dengan pusingnya membeli boks bayi? atau pilih co-cleeping aja agar nyaman. Hal ini tergantung masing-masing individu karena bagaimanapun juga kondisi tiap orang berbeda.
Post Comment